Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Pilihan Redaksi

Dari Pena Jurnalistik ke Dunia Psikologi Anak, Asiawatie Sulastrie Pilih Jalan Pengabdian di Palembang

Avatar photobadge-check

Dari Pena Jurnalistik ke Dunia Psikologi Anak, Asiawatie Sulastrie Pilih Jalan Pengabdian di Palembang Perbesar

PALEMBANG, fpbnewstv. Com— Setiap profesi meninggalkan pengalaman. Namun bagi Asiawatie Sulastrie, pengalaman sebagai wartawan justru menjadi bagian penting dari perjalanan panjang hingga akhirnya memilih dunia psikologi anak sebagai jalan pengabdian.

Asiawatie Sulastrie, S.Psi., M.Psi., Psikolog, pernah berada di balik aktivitas jurnalistik, bertemu banyak orang, menggali informasi, mendengarkan berbagai cerita, serta melihat persoalan kehidupan dari beragam sudut pandang.

Kini, ruang pengabdiannya berubah.     Di Kota Palembang, Asiawatie menjalani profesinya sebagai psikolog anak. Dari sebelumnya menulis dan menyampaikan cerita kepada masyarakat, ia kini lebih banyak mendengarkan cerita anak dan keluarga, memahami persoalan yang mereka hadapi, serta memberikan pendampingan sesuai keilmuan yang dimilikinya.

Perubahan tersebut bukanlah keputusan yang datang secara tiba-tiba. Ada proses panjang, perjuangan pendidikan, keberanian meninggalkan zona nyaman dan kemauan untuk kembali belajar dari awal.

Ketika Pengalaman Wartawan Menjadi Bekal Menjadi Psikolog

Dunia jurnalistik dan psikologi memang memiliki ruang kerja yang berbeda. Namun, keduanya memiliki satu titik temu: manusia dan cerita di balik kehidupannya.

Ketika menjadi wartawan, Asiawatie terbiasa menggali informasi dan mendengarkan narasumber. Ia belajar bahwa satu persoalan dapat memiliki banyak sudut pandang dan bahwa setiap orang memiliki latar belakang yang membentuk cara mereka berpikir dan bertindak.

Pengalaman itu kemudian menjadi bekal ketika dirinya memasuki dunia psikologi.

Jika dahulu ia menggali cerita untuk menghasilkan sebuah berita, kini proses mendengarkan memiliki tujuan yang berbeda. Cerita seseorang menjadi bagian penting untuk memahami kondisi psikologis, terutama ketika berhadapan dengan anak.

Di sinilah perjalanan kariernya menemukan titik temu.

Kemampuan berkomunikasi, membangun hubungan dengan orang lain, menggali informasi dan memahami berbagai karakter yang diperoleh dari dunia jurnalistik menjadi pengalaman yang tidak sia-sia.

Memilih Kembali ke Bangku Pendidikan

Keputusan untuk menekuni psikologi membawa Asiawatie kembali ke dunia akademik.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Profesi Psikolog di Yogyakarta. Bagi sebagian orang, kembali ke bangku pendidikan setelah memiliki pengalaman profesional bukan perkara sederhana.

Namun, Asiawatie memilih menjalaninya sebagai bagian dari proses untuk membangun kompetensi dan memperdalam bidang yang ingin ditekuninya.

Perjuangan tersebut ternyata belum berhenti. Saat ini, ia masih melanjutkan perjalanan akademiknya dengan menempuh pendidikan doktor Psikologi di salah satu perguruan tinggi di Kota Jakarta.

Di tengah kesibukan menjalankan profesi sebagai psikolog, pendidikan doktoral menjadi tantangan sekaligus kesempatan untuk terus mengembangkan pengetahuan.

Jarak, waktu, aktivitas profesional dan tuntutan akademik harus dijalani secara berkala.Namun, bagi seorang profesional, belajar tidak berhenti ketika gelar telah diperoleh.

Justru, semakin tinggi tanggung jawab profesi, semakin besar pula tuntutan untuk terus memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kompetensi.

Melihat Anak Lebih dari Sekadar Perilakunya

Dalam menjalankan profesinya sebagai psikolog anak, salah satu hal penting adalah memahami bahwa perilaku anak tidak selalu dapat dilihat secara sederhana.

Anak yang mudah marah belum tentu sekadar anak yang nakal. Anak yang pendiam belum tentu tidak memiliki kemampuan berkomunikasi. Anak yang sulit berkonsentrasi juga tidak bisa langsung diberi label tanpa memahami kondisi yang melatarbelakanginya.

Setiap perilaku dapat memiliki cerita.

Karena itu, anak membutuhkan orang dewasa yang bersedia mendengarkan dan memahami mereka.

Pendampingan psikologis tidak hanya berkaitan dengan anak, tetapi juga melibatkan keluarga. Orang tua memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan emosional, sosial dan psikologis anak.

Pemahaman seperti inilah yang menjadi bagian dari perjalanan Asiawatie dalam menjalankan profesinya.

Suka Duka di Balik Pergantian Profesi

Berpindah dari dunia jurnalistik ke psikologi tentu memiliki suka dan duka tersendiri.

Ada kenyamanan yang harus ditinggalkan, ada tantangan baru yang harus dihadapi, serta proses pendidikan yang membutuhkan waktu, tenaga dan ketekunan.

 

Namun, di balik semua itu terdapat kepuasan ketika ilmu yang dipelajari dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

 

Pengalaman menjadi wartawan juga tidak kemudian hilang begitu saja. Justru, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup yang membentuk cara Asiawatie berkomunikasi, memahami manusia dan melihat persoalan dari berbagai perspektif.

 

Dari dunia jurnalistik, ia belajar tentang kehidupan masyarakat.

 

Dari dunia psikologi, ia semakin mendalami manusia dari sisi pikiran, emosi dan perilakunya.

 

Dua perjalanan tersebut akhirnya bertemu dalam satu tujuan: memberikan manfaat melalui profesi yang dijalani.

 

Bukan Sekadar Berganti Profesi

 

Kisah Asiawatie bukan sekadar cerita tentang seorang wartawan yang kemudian menjadi psikolog.

 

Lebih dari itu, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa perubahan arah kehidupan dapat menjadi awal dari sebuah pengabdian baru.

 

Dari pena jurnalistik yang dahulu digunakan untuk menulis cerita masyarakat, kini Asiawatie memilih menggunakan ilmu psikologi untuk mendengarkan dan memahami cerita anak-anak.

 

Di Palembang, perjalanan itu terus berlanjut.

 

Di satu sisi, ia menjalankan profesinya sebagai psikolog anak. Di sisi lain, ia masih menempuh pendidikan doktoral untuk memperdalam keilmuan.

 

Sebuah perjalanan yang memperlihatkan bahwa keberhasilan bukan selalu tentang seberapa cepat seseorang mencapai tujuan, tetapi tentang keberanian untuk terus belajar dan menemukan makna dalam setiap langkah.

 

Dari wartawan yang mencari cerita, menjadi psikolog yang mendengarkan cerita. Dari menulis tentang manusia, kini mendampingi manusia—khususnya anak-anak—untuk tumbuh, berkembang dan menemukan potensi terbaiknya.

 

Itulah perjalanan Asiawatie Sulastrie, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dari dunia jurnalistik menuju dunia psikologi anak, sebuah perjalanan panjang yang dibangun dengan keberanian, pendidikan dan semangat pengabdian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

‎FWP Periode 2026-2029 Dikukuhkan, Wujudkan Pers Maju Kedepankan Kode Etik Jurnalistik PATI, 

25 Sep 2026 - 15:06 WIB

‎FWP Periode 2026-2029 Dikukuhkan, Wujudkan Pers Maju Kedepankan Kode Etik Jurnalistik PATI, 

‎Kronologi PNS Inspektorat di OKI Dibunuh Istri

23 Sep 2026 - 01:38 WIB

‎Kronologi PNS Inspektorat di OKI Dibunuh Istri

Nusron wahid ajukan mundur dari kepengurusan golkar

20 Sep 2026 - 19:50 WIB

Nusron wahid ajukan mundur dari kepengurusan golkar

Lewati 98% Populasi, BPJS Kesehatan Tancap Gas Dorong Layanan Berbasis Value-Based Care

16 Sep 2026 - 11:24 WIB

Lewati 98% Populasi, BPJS Kesehatan Tancap Gas Dorong Layanan Berbasis Value-Based Care

Kejurda Catur Sumsel Resmi Ditutup, Atlet Dipersiapkan Hadapi Kejurnas di Banten

13 Sep 2026 - 22:18 WIB

Kejurda Catur Sumsel Resmi Ditutup, Atlet Dipersiapkan Hadapi Kejurnas di Banten
Trending di Headline
Secret Link