PALEMBANG fpbnewstv. Com— Maraknya aksi tawuran antar-pelajar yang kembali marak dan membanjiri lini masa media sosial menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan dan keasuhan anak. Fenomena berdarah ini bukan lagi sekadar aksi kenakalan remaja atau pelanggaran hukum biasa, melainkan cerminan dari krisis psikologis yang tengah dialami generasi muda.
Psikolog Anak, Asiawatie Sulastri, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa tindakan agresif hingga keberanian membawa senjata tajam (sajam) di jalanan merupakan manifestasi dari pencarian identitas diri yang kehilangan arah.

”Remaja berada dalam fase identity versus role confusion. Ketika mereka tidak mendapatkan wadah yang tepat untuk mengekspresikan emosi, sense of belonging atau rasa memiliki itu justru dicari dalam kelompok sebaya yang destruktif,” ujar Asiawatie.
Menurutnya, dorongan peer pressure (tekanan teman sebaya) dan dahaga akan pengakuan sebagai sosok yang ‘hebat’ sering kali melumpuhkan logika serta rasa takut remaja terhadap risiko bahaya.
Tiga Akar Krisis Emosi Remaja
Asiawatie merinci ada tiga faktor utama yang memicu meledaknya agresivitas remaja saat ini:
Penyumbatan Kanalisasi Emosi: Remaja memiliki energi berlebih dan beban frustrasi yang membutuhkan ruang salur positif, seperti olahraga, seni, atau kegiatan ekstrakurikuler yang terarah.
Keringnya Komunikasi Emosional di Rumah: Pengawasan orang tua tak cukup sebatas fisik. Tanpa keterikatan emosional dan rasa dihargai di rumah, anak kehilangan benteng pertahanan emosi terutamanya.
Glorifikasi Semu Media Sosial: Paparan konten kekerasan yang viral memberi ‘panggung’ dan validasi semu, seolah-olah aksi anarki adalah pencapaian yang patut dibanggakan.
Mengubah Pendekatan: Dari Hukuman Menuju Pemulihan
Menanggapi maraknya penindakan hukum, Asiawatie menekankan pentingnya pergeseran paradigma dalam menangani pelaku anak. Sanksi retributif atau hukuman fisik semata dinilai belum menyentuh akar permasalahan.
”Penanganan tawuran harus menerapkan pendekatan restoratif yang mendidik. Kita harus membedah akar masalahnya, mendampingi anak dalam mengelola regulasi emosi, lalu mengarahkan mereka kembali pada peran sosial yang positif,” tegasnya.
Memutus rantai kekerasan ini tidak bisa dilakukan secara parsial. Sinergi yang solid antara kehangatan keluarga, kepekaan sekolah, dan pengawasan lingkungan masyarakat menjadi kunci mutlak agar generasi muda dapat tumbuh dalam ekosistem yang aman, sehat, dan mendukung.(Yon)


















