Palembang,fpbnewstv.com – Terobosan pendidikan Al-Qur’an yang inklusif kembali lahir di Kota Palembang. Rumah Tahfidz Al-Qur’an Roudhotul Ashom Nusantara, yang diperuntukkan khusus bagi sahabat Tuli, mulai dibangun di Kompleks Perumahan Privilege Palembang, Jalan Masjid Az-Zikra, Kecamatan Gandus, Sabtu (16/08). Fasilitas ini menjadi rumah tahfidz khusus Tuli pertama di Sumatera.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru hadir langsung dalam ground breaking sekaligus meletakkan batu pertama pembangunan. Ia mengapresiasi hadirnya ruang pembelajaran yang menggunakan bahasa isyarat untuk mendekatkan sahabat Tuli dengan Al-Qur’an.
“Ini spesial karena khusus sahabat Tuli. Kalau tunanetra menggunakan Braille, kalau ini menggunakan bahasa isyarat. Tentu mengajarnya membutuhkan kesabaran,” ujar Herman Deru.
Menurutnya, keberadaan rumah tahfidz tersebut tidak hanya menghadirkan fasilitas baru, tetapi juga menjadi bagian dari langkah memperkuat Sumatera Selatan sebagai daerah yang religius.
Penggagas Privilege Palembang, Ryoga Nugraha, mengatakan pembangunan rumah tahfidz ini merupakan jawaban atas kebutuhan sahabat Tuli yang selama ini belajar Al-Qur’an dari satu tempat ke tempat lainnya.
“Alhamdulillah, Pak Gubernur berkenan hadir dan melakukan peletakan batu pertama pembangunan Rumah Tahfidz khusus Tuli, pertama di Sumatera, kedua di Indonesia,” ungkap Ryoga.
Ia menuturkan, pembangunan tersebut merupakan bagian dari cita-cita bersama untuk menyediakan tempat belajar yang permanen, nyaman dan dapat dimanfaatkan secara gratis oleh sahabat Tuli.
Perjuangan menghadirkan rumah tahfidz ini juga tidak terlepas dari dedikasi Ustaz Akbar yang selama sekitar empat tahun secara konsisten mengajarkan Al-Qur’an kepada komunitas Tuli tanpa bayaran. Setiap Kamis, proses belajar berlangsung dari sore hingga malam.
Ustaz Akbar menjelaskan, pembelajaran dilakukan secara bertahap, mulai dari mengenal huruf hijaiyah, merangkai huruf, membaca sekaligus menghafal, hingga kitabah atau menuliskan kembali hafalan.
“Kawan-kawan Tuli menangkap ilmu secara visual. Jadi prosesnya membutuhkan waktu dan kesabaran ekstra,” jelasnya.
Untuk tahap awal, para santri akan diarahkan mempelajari Juz 30 dengan metode yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Target hafalan pun tidak dipaksakan seragam karena setiap peserta memiliki kapasitas dan kecepatan belajar yang berbeda.
Selain metode khusus, pembelajaran Al-Qur’an tersebut juga diperkuat dengan sanad keilmuan. Ustaz Akbar bersama komunitas Tuli sebelumnya mendapat kesempatan belajar dan mengambil sanad di Yogyakarta, dengan dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.
Rumah Tahfidz Roudhotul Ashom Nusantara diharapkan menjadi lebih dari sekadar bangunan. Kehadirannya menjadi simbol bahwa akses terhadap Al-Qur’an terbuka bagi semua, termasuk sahabat Tuli.
Dari bahasa isyarat, lahir ruang belajar. Dari ruang belajar, tumbuh hafalan. Dan dari perjuangan bersama itu, diharapkan hadir generasi Qur’ani yang mampu membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk dekat dengan Al-Qur’an.(rud) 










